fbpx

5 Anggapan Keliru Mengenai Studi S-3

Cerita Inspiratif

Halo Scholarship Hunters! Pada artikel kali ini, Schoters akan membagikan pengalaman yang berharga dari Ricky Andriansyah, PhD yang telah menyelesaikan studi S-3 di Belanda.  Artikel ini akan membahas beberapa kesalahpahaman mengenai studi S-3. Nah, apa saja ya kira-kira kesalahpahaman tersebut? Simak penjelasan dari Ricky Andriansyah, PhD berikut ini.

Seperti yang saya sampaikan pada tulisan sebelumnya, studi S3 adalah suatu proses pembelajaran atas berbagai keahlian yang bermanfaat untuk berkarir di dunia industri. Beberapa manfaat utama yang saya rasakan antara lain: handal menangani ambiguitas, bekerja secara terstruktur, berpikir kritis dan kreatif dalam membuat solusi.

Terlepas dari berbagai manfaat studi S-3, saya beberapa kali mendapati anggapan yang keliru dari mahasiswa Indonesia mengenai studi S3. Betapa sayangnya jika para mahasiswa ini akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil studi S-3 berdasarkan anggapan yang keliru. Berikut ini 5 anggapan umum yang saya rasa tidak benar mengenai studi S-3.

1. Hanya untuk mereka yang super pintar

Seringkali orang beranggapan studi S-3 hanya ditujukan bagi mereka yang luar biasa pintar karena S-3 adalah tingkat pendidikan formal tertinggi. Artinya jika Anda tidak memiliki rekam jejak cemerlang saat studi S-1/S-2, maka studi S3 bukan untuk Anda. Hal ini adalah tidak benar. Pernyataan yang tepat adalah studi S-3 hanya ditujukan untuk mereka yang pantang menyerah, rajin, dan berkeingintahuan tinggi. Hal ini karena studi S-3 berbeda dari S-1/S-2 yang sebagian besar adalah kuliah, tugas, dan ujian. Penelitian adalah bagian kecil dari S-1/S-2, sedangkan ini adalah bagian utama dari S-3. Mereka yang sangat pintar namun tidak mampu mengatasi kegagalan dan kekecewaan akan mengalami kesulitan besar saat terlibat dalam penelitian serta berbagai tantangannya. Sebaliknya, nilai rendah saat S-1/S-2 bukan harga mati untuk tidak mengambil S-3. Sebagai contoh nyata, saya mendapat nilai 6 (setara C, sekedar lulus) untuk mata kuliah S-2 yang mendasari studi S-3 saya. Namun saya tetap mampu menyelesaikan S-3 dalam 4 tahun dengan beberapa penghargaan.

2. Membosankan karena berkutat dengan hal yang sama selama 4 tahun

Suatu hari di kereta dari Amsterdam menuju Eindhoven saya mendengar percakapan dua orang Belanda yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Seorang diantaranya bertanya ke yang lain apakah ia memutuskan mengambil S-3. Ia menjawab tidak, karena bekerja di industri baginya lebih menarik dan dinamis (?) sedangkan S-3 membosankan karena ia akan bekerja dengan hal yang sama selama minimal 4 tahun. Semoga itu bukan satu-satunya alasan yang mendasari keputusannya, karena pernyataannya yang terakhir itu keliru. Penelitian S-3 terdiri dari berbagai topik kecil yang secara keseluruhan membentuk tema utama penelitian tersebut. Setiap topik memerlukan penelitian tersendiri. Artinya dalam 4 tahun studi S-3 Anda akan melakukan beberapa penelitian berbeda dalam satu tema besar. Anda terus belajar dan memahami banyak hal baru yang akan membuka wawasan keilmuan Anda secara menyeluruh. Ditambah kegiatan lain seperti menghadiri konferensi ilmiah dan membimbing mahasiswa, yakinlah Anda akan mengerjakan banyak hal berbeda selama studi S-3.

3. Hanya untuk mereka yang ingin bekerja sebagai akademisi

Beberapa penyedia beasiswa S-3 memberikan prioritas kepada para (calon) akademisi. Walaupun banyak doktor yang kemudian mengabdi sebagai dosen dan peneliti, bukan berarti studi S-3 hanya ditujukan bagi mereka yang ingin menjadi akademisi. Sebaliknya, S-3 hanyalah prasyarat bagi para akademisi, namun adalah nilai jual tambah bagi praktisi. Profesor atau guru besar sebagai jabatan tertinggi di akademia diawali dengan studi S-3, sebagai bukti seseorang mampu memimpin dan melaksanakan penelitian yang mandiri dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Di lain pihak, seseorang tidak perlu menyelesaikan studi S-3 untuk menjadi direktur atau memimpin perusahaan. Namun, intensitas studi S-3 akan memberikan cara pandang berbeda dan membentuk pola pikir kritis serta terstruktur untuk mencapai tujuan. Ini merupakan nilai tambah nyata bagi mereka yang bekerja di dunia industri: tidak semua praktisi memiliki kemampuan tersebut. Penjabaran lebih lanjut dapat Anda temukan di artikel saya sebelumnya mengenai 8 kemampuan yang Anda pelajari selama studi S-3 untuk karir di dunia industri.

 

anggapan kuliah S3

4. Lulusan S-3 cenderung teoretis dan tidak praktis

Tidak dapat dipungkiri begitu banyak teori yang harus dipelajari selama penelitian S-3. Namun anggapan bahwa lulusan S-3 cenderung teoretis, yaitu berpikir hanya dalam kerangka teori, adalah keliru. Pernyataan yang tepat adalah seorang doktor seringkali berpikir abstrak dan konseptual dalam mencapai tujuannya. Kemampuan ini terlatih karena 4 tahun penelitian yang dilakukan bukanlah untuk mencari jawaban sekedarnya, tetapi jawaban yang benar, optimal, atau lebih baik daripada yang diketahui sampai saat ini dalam batasan-batasan atau asumsi tertentu. Di dunia industri, jawaban yang demikian setara dengan solusi atau kebijakan pragmatis yang menguntungkan tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Solusi seperti ini seringkali melibatkan diskusi konseptual dengan tingkat abstraksi tinggi, dimana seorang lulusan S3 sudah sangat terlatih melakukannya. Artinya, lulusan S-3 mampu merencanakan solusi pragmatis berkualitas tinggi.

5. Membuang waktu untuk memulai karir

Banyak orang berpikir dua kali untuk melakukan studi S-3 karena durasinya yang panjang. Sepuluh tahun adalah jangka waktu yang wajar untuk mencapai S-3 sejak awal studi di universitas: 4 tahun S-1, 2 tahun S-2, 4 tahun S-3. Artinya jika seseorang memulai kuliah di umur 17 tahun dan memutuskan untuk meneruskan studinya secara berkesinambungan, baru pada umur 27 tahun ia akan memulai karir di industri atau akademia. Sementara itu teman-teman kuliah saat S1 sudah mengumpulkan setidaknya 6 tahun pengalaman kerja. Apa kemudian sebanyak itu pulakah waktu membangun karir terbuang sia-sia? Tidak. S-3 bagi saya adalah masa investasi keilmuan, pola pikir, dan etos kerja. Hasilnya akan tercermin pada kinerja tinggi saat memulai karir; sebagai nilai tambah yang membedakan Anda dari rekan kerja lain, serta tingginya percaya diri terhadap kemampuan sendiri karena Anda telah berhasil menyelesaikan S-3 sebagai salah satu tantangan terbesar dalam hidup Anda. Anggaplah S-3 sebagai pelatihan intensif di lingkungan yang aman dan kondusif; bisa jadi ini adalah investasi jangka panjang terbaik untuk karir Anda.

Cermati kembali asumsi yang Anda gunakan saat mempertimbangkan studi S-3. Jangan biarkan anggapan awam yang keliru menghalangi Anda melanjutkan studi ke jenjang S-3.

 

Persiapkan diri Anda dari sekarang. Jangan ragu untuk meneruskan studi S-3 sedini mungkin dalam karir Anda!

Penulis :
Ricky Andriansyah, PhD
Jakarta, 27 Juni 2016

 

Bagaimana nih persiapan Hunters untuk kuliah ke jenjang S-3? Persiapkan rencana kuliah keluar negeri dan dapatkan beasiswa dengan  konsultasi bersama mentor experts Schoters. Klik gambar di bawah ini atau langsung chat untuk informasi paket bimbingan dan layanan lainnya ya!

Cek juga Kalender Beasiswa Schoters  untuk informasi beasiswa di negara lain! Good luck!

anggapan kuliah S3

 

Pin It on Pinterest

Share This