Master by Research atau Coursework?

Tips & Trik, 06 Sep 2022

Terkadang banyak lulusan program strata satu di Indonesia yang asal ingin lanjut sekolah, “Pokoknya gw mau kuliah master ke luar!”. Setelah mendaftar dan diterima, tidak jarang dari mereka yang panik karena tidak mengetahui bedanya master by research dan coursework.

Apa Perbedaan Master by Reasearch dan Coursework?

Pada dasarnya kalau di luar negeri, program master (S2) itu terbagi menjadi dua tipe: research dan coursework. Bedanya adalah, kalau “by research”, masa perkuliahan yang ditempuh oleh para mahasiswa selama 2 tahun akan difokuskan pada riset.

Oleh karena itu jika ditanya, “Kapan mulai tesis?” Jawabannya adalah: Ya pada hari pertama menginjakan kaki di kampus. Di hari itulah para mahasiswa sudah memulai kegiatan riset untuk keperluan tesis!

Para mahasiswa dalam tipe program master ini hanya diminta kuliah seperlunya saja untuk menunjang keperluan riset, tidak sampai 20-an sks per semester. Seperti ketika saya melanjutkan studi di Jepang, master by research, per semester hanya diminta untuk mengambil 3 mata kuliah.

Bagaimana dengan coursework? Jenis program master ini dapat dikatakan sama persis dengan tata cara ketika kita kuliah S1. Dalam tipe ini, para mahasiswa tetap diminta untuk datang ke kelas, mengerjakan tugas, ujian, dan seterusnya.

Biasanya, para mahasiswa baru memulai tesis mereka di semester terakhir. Di beberapa negara, master by coursework ini bisa diselesaikan dalam waktu hanya 1 tahun, seperti di Australia, UK, atau Belanda.

Baca Juga: 7 Universitas Terbaik di Belanda

Bagaimana Menentukan Pilihan yang Tepat?

Saya selalu wanti-wanti ke peserta seminar beasiswa, memilih negara itu sangatlah penting. Bukan hanya agar dapat selfie di Menara Eifel, pacaran dengan orang Jepang, atau naik puncak Alpen, tetapi lebih karena berbeda negara, berbeda pula kebijakan mengenai dua tipe program strate dua ini: master by research atau coursework.

“Saya selalu wanti-wanti ke peserta seminar beasiswa, memilih negara itu sangatlah penting”

Misalnya di Jepang, Korea Selatan, atau Taiwan. Pada umumnya di negara Asia Timur ini, program master yang dilaksanakan adalah program master by research. Contohnya adalah ketika saya ketika saya melanjutkan studi di Jepang, kegiatan akademik yang saya lakukan seperti layaknya orang yang kerja kantoran.

Masuk “ruang kerja” jam 8.00 dan berakhir jam17.00. Keseluruhannya saya lakukan di laboratorium. Pengecualian hanya terjadi pada saat ada perkuliahan dan para mahasiswa diizinkan untuk tidak berada di lab.

Hampir tidak ada opsi untuk by coursework, kecuali beberapa program yang memang di-settingberbeda. Misalnya pada program master public policy di GRIPS.

Beberapa negara memberikan opsi untuk para mahasiswanya terkait dengan program master yang akan diambil-nya, apakah dilakukan dengan tipe research apa coursework?

Sebagai contoh di Aussie atau UK. Yuk kita ambil contoh, University of Sidney. Di universitas ini, terdapat pilihan untuk mengambil master by coursework ataupun master by research.

Untuk program master by research, biasanya gelar yang akan didapat adalah M.phil, sementara untuk master by coursework gelar yang biasanya didapat oleh para lulusannya adalah M.Sc.

Meskipun demikian, tentu seperti sudah saya tekankan sebelumnya bahwa berbeda negara, berbeda pula kebijakan yang diterapkan. Di Singapura contohnya, untuk program coursework, gelar yang diberikan adalah M.Sc.

Sedang program research, gelar yang diberikan adalah M.Eng. Sebaliknya di USA, program coursework gelarnya adalah M.Eng, sedang program research gelarnya adalah M.Sc.

Baca Juga: 7 Universitas Terbaik di Dunia dalam Bidang Pendidikan

Kelebihan dan Kekurangan Master by Reasearch atau Coursework

Terakhir, apa saja pertimbangan yang harus dilakukan mahasiswa untuk pada akhirnya memilih tipe program master, apakah master by research atau coursework? Untuk itu, saya uraikan kelebihan dan kekurangan kedua program ini:

A. Master by Research

Kelebihan:

  1. Output yang diminta adalah minimal membuat 1-2 paper atau conference, karena memang mahasiswa diminta untuk fokus melakukan riset.
  2. Pengalaman riset yang dilakukan pada program master ini akan sangat berguna jika mahasiswa tersebut berminat untuk untuk melanjutkan studi doctoral (Ph.D program).

Kekurangan:

Lemah dalam basic concept! Hal ini akan terjadi terutama jika si mahasiswa tidak memiliki kedalaman tingkat kelimuan ketika menjalani studi di program strata satu, atau topik riset dalam program master yang dilakukannya adalah studi lintas bidang kelimuan.

“Lemah dalam basic concept!”

Hal ini terjadi pada diri saya sendiri. Bidang keilmuan S1 saya adalah material dan pada jenjang S2, saya mengambil bidang keilmuan biomaterial. Dalam hal ini, saya merasa sangat kurang di basicilmu biologinya, terutama ketika saya menjalankan riset.

B. Master by Coursework

Kelebihan:

Ilmu yang akan didapatkan akan sangat mendalam. Beberapa produk master by coursework seperti ini adalah Ferry Anggoro Ardy Nugroho yang sekarang jadi pakar nanoteknologi di Swedia.

“Ilmu yang akan didapatkan akan sangat mendalam”

Ferry mengambil program master Erasmus Mundus dalam bidang nanoteknologi. Saya tahu betul bagaimana Ferry waktu S1 sangat buta terhadap nanoteknologi, tetapi sekarang sudah sangat jauh berbeda.

Kekurangan:

Exposure riset yang kurang. Agak sulit mengharapkan mahasiswa dalam program master by coursework dapat menghasilkan output sebuah paper international, jelas karena apa yang ia lakukan kebanyakan berada di kelas dan menjalani perkuliahan.

“Exposure riset yang kurang”

Jadi, jangan bingung lagi ya. Tentukan pilihanmu!